Jumat, 03 September 2021

SEJARAH ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA

 

MAKALAH

   SEJARAH ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA

                                     Disusun guna memenuhi tugas

      Mata Kuliah: Sejarah Islam di Indonesia

                     

 

 

 

 

 

 

 

 

      Kelas B

           JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

                 FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH

     INSTITUT AGAM ISLAM NEGERI PEKALONGAN

            2021

PENDAHULUAN

                        Perkembangan bangsa Indonesia sejak zaman dahulu tentu menorehkan banyak sejarah yang sangat bernilai. Warga asli Indonesia yang dikenal oleh orang asing sebagai warga pribumi tentu awal mulanya dinilai sangat rendah dan tidak ada derajatnya. Namun dibalik asumsi orang asing mengenai Indonesia tak selalu menjadikan ideologi Indonesia melemah. Bahkan justru membangkitkan tekad warga Indonesia terutama para ulama untuk mengembangkan potensi warga Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendirikan berbagai organisasi keislaman.

            Islam sendiri sudah menjadi agama mayoritas warga Indonesia. Pembawaannya yang ramah dan agamanya yang selalu mengajarkan kebaikan meski kepada kaum agama lain membuatnya mudah diterima oleh masyarakat. Begitupula dengan berbagai organisasi keislaman yang muncul seiring dengan tekad  para tokoh masyarakat untuk mengembangkan keilmuan masyarakat Indonesia. Maka lahirlah berbagai organisasi keislaman yang pada masa-masa selanjutnya memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kemajuan bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

1.      PERSIS

Persatuan Islam (PERSIS) berdiri pada tahun 1920 di Bandung. Awal mula terbentuknya organisasi ini adalah berawal dari para anggota kenduri terutama Haji Zam-zam dan Haji Muhammad Yunus yang membahas berbagai masalah dan gerakan keagamaan.[1] PERSIS memiliki tokoh utama yaitu Ahmad Hassan (1887-1958). Beliau banyak menulis artikel mengenai pentingnya umat islam kembali kepada ajaran Al Qur’an dan Hadis.Ketika beliau bergabung dengan Persatuan Islam beliau diangkat menjadi juru dakwah handal sehingga beliau menjadi tokoh yang tak bisa dipisahkan dari organisasi tersebut. Beliau juga sangat berpengaruh dalam corak dan gaya organisasi PERSIS, yaitu keras, konsisten, tidak mengenal kompromi dan kurang luwes dalam berdakwah. Persatuan Islam memiliki metode yaitu mengutamakan dakwah lisan dan tulisan. Seperti memperbanyak tabligh, menerbitkan buku dan majalah, mengadakan perdebatan umum dan berpolemik di dunia massa.

Selain Ahmad Hassan tokoh lain yang juga berpengaruh yaitu Muhammad Natsir. Beliau lahir di Sumatra Barat pada 17 Juli 1908. Beliau secara rutin mengikuti sidang jum’at yang diselenggarakan oleh anggota PERSIS sehingga membuat hubungannya dengan anggota lain semakin akrab. Namanya semakin dikenal ketika beliau menyampaikan pendapat maupun pandangannya dalam majalah PERSIS yang bernama Pembela Islam.

Perjuangan PERSIS dalam bidang pendidikan adalah dengan mendirikan madrasah dan pesantren. Yang walnya hanya digunakan oleh aanak-anak anggota PERSIS saja. Namun kemudian seiring berjalannya waktu diperluas dengan menerima anak-anak lain.[2]

 Hal yang membedakan PERSIS dengan organisasi lain yaitu dalam menyebarkan ide-idenya PERSIS menyukai cara perdebatan dan polemik. Oragnisasi ini kerap mengajak orang yang berbeda pendapat dan pemikiran untuk berdebat. Dibanding dengan Muhammadiyah, Persis tidak terlalu giat dalam membentuk  banyak cabang. Pembentukan suatu cabang tergantung pada inisiatif peminatnya dan tidak ditentukan oleh program pimpinan pusat. Jika muhammadiyah berusaha mengiring orang masuk, lalu kemudian membina orang tersebut di dalam organisasi, maka Persis mengutamakan membina dahulu diluar, lalu yang dianggap sudah layak baru direkrut menjadi anggota. Tidaklah heran jika organisasi PERSIS jauh lebih kecil dibanding Muhammadiyah dalam jumlah anggota dan aktivitasnya. Persatuan Islam hanya memiliki 200 cabang di seluruh Indonesia, yang menangani ratusan sekolah dan pesantren.[3]

 

2.      AL WASHLIYAH

Berdirinya Al-Washliyah dilatar belakangi oleh kesadaran beberapa pelajar dan guru yang tergabung dalam perguruan Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) untuk bersatu dalam menyalurkan ide dan pendapat. MIT sendiri adalah sebuah institusi pendidikan agama islam yabg didirikan oleh masyarakat mandailing atau pendatang dari Tapanuli Selatan yang menetap di Medan. Maktab tersebut signifikan dalam dua hal : ia adalah lembaga pendidikan islam formal pertama di Medan dan berdirinya Al-Washliyah adalah merupakan gagasan dari para alumni Maktab tersebut. Upaya ini mulai dirintis, sehingga sebuah organisasi terwujud dan secara resmi berdiri pada 30 November 1930 bertepatan dengan 9 Rajab 1349 H yang diberi nama Al-Washiyah, yang bermakna organisasi yang ingin memperhubungkan dan mempertalikan. berkaitan dengan keinginan dengan keinginan memelihara hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan sesama manusia, antar suku, antar bangsa, dan lain-lain.[4]

Pendirian dan pertumbuhan awal Al-Washliyah tidak tergantung pada satu tokoh sentral, melainkan merupakan hasil upaya bersama  beberapa orang dengan peran dan keistimewaannya masing-masing. Syekh Muhammad Yunus adalah tokoh yang biasanya dianggap sebagai pendiri Al-Washliyah. Abdurrahman Syihab adalah tokoh lain yang mempunyai kemampuan tinggi dalam rekruitment anggota; Arsyad Talib Lubis adalah ulama Al-Washliyah dengan ilmu dan pengetahuan agama islam yang sangat mendalam; sementara Udin Syamsudin adalah administrator dan ahli manajemennya. Kesemuanya dipersepsi sebagai orang-orang yang berperan penting dalam pendirian dan pengembangan organisasi ini.

Program kerja Al-Washliyah yang disusun pada masa awal berdirinya mencakup: tabligh (ceramah agama), tarbiyah (pengajaran), pustaka/penerbitan, fatwa, penyiaran, urusan anggota dan tolong menolong. Dalam rangka operasionalisasi program-program ini dibentuklah majelis-majelis untuk intensitas kerja yaitu:

a.       majelis tabligh (majelis yang mengurus kegiatan dakwah dalam bentuk ceramah).

b.      majelis Tarbiyah (masalah yang mengurus masalah  pendidikan dan pengajaran).

c.       majelis Studies Fonds (majelis yang mengurusi beasiswa untuk pelajar-pelajar diluar negeri).

d.      majelis fatwa (majelis yang mengeluarkan fatwa mengenai masalah sosial yang belum jelas status hukumnya bagi masyarakat).

e.       majelis Hazanatul Islamiyah (mengurus dana bantuan sosial untuk anak yatim piatu dan fakir miskin, dan majelis penyiaran Islam di daerah Toba).

Dengan prinsip keterbukaan, Al-Washliyah membuat kemajuan di bidang  pendidikan. Pada tahun 1938, Al-Washliyah sudah mengelola madrasah tingkat Aliyah (Qismul Ali) dan juga madrasah pendidikan guru. Di sektor pendidikan umum, dibuka pula HIS berbahasa belanda di Porsea dan Medan dengan menambahkan pelajaran agama Islam  pada kurikulumnya. Pada kongres III tahun 1941, Al-Washliyah dilaporkan mengelola 242 sekolah dengan jumlah siswa lebih dari 12.000 oran. Sekolah-sekolah ini terdiri atas  berbagai jenis: Tahiziyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Qismul Ali, (aliyah), Muallimin,  Muallimat, Volkschool, Vervolgschool, H.I.S, dan Schakelschool.[5] Selain mendirikan madrasah, Al Washliyah juga mendirikan sekolah umum seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Serta mendirikan perguruan tinggi islam pada tahun 1958.

 

3.      SERIKAT ISLAM

Serikat Islam lahir di Solo pada 16 Oktober 1905 dengan sifat Nasional dan dasar Islam yang tangguh adalah organisasi islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di Indonesia. Sebagai upaya untuk menekan laju persebaran agama kristen (Kristenings Politik) di Indonesia, para kiai, haji dan ulama meningkatkan nilai-nilai ke-Islaman serta membentuk sebuah perkumpulan sebagai wadah persatuan umat islam bumi putera. Seperti halnya H. Samanhudi, H.O.S. Tjokrominoto, H. Agus Salim serta para haji lainnya, melalui organisasi Sarekat Islam (SI) yang dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto.

Tujuan organisasi ini ialah untuk mengembangkan jiwa berdagang, memberi bantuan kepada anggota-anggota yang menderita kesukaran, memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya derajat bumiputra, dan menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang islam. Pada masa ke pemimpinan Cokroaminoto, fungsi SI, secara realistis, ialah berusaha menghapus segala penderitaan rakyat, menganggap dirinya sederajat dengan setiap orang belanda. Kontribusi SI terbesar dalam spektrum gerakan pembaruan Islam barangkali terletak pada usahanya mengarahkan kesadaran umat Islam dalam berbangsa dan bernegara degan suatu wawasan baru.

4.      MUHAMMADIYAH

Pendiri Muhammadiyah yaitu Kiyai Haji Ahmad Dahlan berasal dari keluarga berpengaruh dan terkenal di lingkungan kesultanan Yogyakarta, yang secara genealogis ditelusur akan sampai pada Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi. Ayahnya bernama Kyai Haji Abu Bakar dan ibunya Nyai Siti Aminah. Beliau pernah belajar ke Mekkah pada tahun 1890 dan berguru pada banyak ulama salah satunya adalah Syaikh Muhammad Khatib.

Organisasi Muhammadiyah merupakan organisasi sosial islam yang berdiri pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H, di Yogyakarta atau pada tanggal 18 November 1912 M. Organisasi ini dipelopori oleh K.H Ahmad Dahlan atas saran murid-muridnya dan beberapa orang anggota Budi Utomo untuk mendirikan lembaga pendidikan yang bersifat permanen.[6] Organisasi Muhammadiyah merupakan organisasi yang bertujuan menyebarkan  pengajaran agama Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputra di Jawa dan Madura serta memajukan pengetahuan agama para anggotanya. Untuk mewujudkannya didirikanlah lembaga-lembaga pendidikan, pengadaan tabligh, mendirikan masjid, menerbitkan buku- buku, brosur-brosur, surat-surat kabar, dan majalah. Pada saat itu terdapat sembilan  pengurus inti, yaitu Ahmad Dahlan sebagai Ketua, Abdullah Sirat sebagai sekretaris, Ahmad, Abdul Rahman, Sarkawi, Muhammad, Jaelani, Akis, dan Muhammad Fakih sebagai anggota. Sementara itu, para anggota hanya dibatasi pada penduduk jawa dan Madura yang beragama Islam.

            Usaha-usaha pembaharuan Muhammadiyah meliputi:

a.       Memurnikan ajaran islam dengan membersihkan praktek serta pengaruh yang bukan dari ajaran islam.

b.      Reformasi ajaran dan pendidikan islam. 

c.       Reformasi doktrin-doktrin dengan pandangan alam pikiran modern.

d.      Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan dari luar islam

 

Ada beberapa hal yang mempermudah berkembang dan meluasnya organisasi Muhammadiyah di indonesia. Pribadi Ahmad Dahlan dan caranya berpropaganda dengan memperlihatkan toleransi dan perhatian kepada pendengarnya memporeleh sambutan yang sangat memuaskan. Mereka yang mengenal pembaharuan di mesir melihat  pula pada Muhammadiyah sebagai jalan untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran  pembaharuan tersebut di Indonesia, sehingga mereka memberikan bantuan kepada organisasi ini.

Ada tiga bagian organisasi Muhammadiyah yang aktivitasnya pantas diteladani oleh generasi saat ini. Ketiga bagian organisasi itu ialah:

 

A. ‘Aisyiyah

            Aisyiyah merupakan lembaga organisasi wanita dari Muhammadiyah yang didirikan di daerah Kauman, Yogyakarta.

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan pada masa itu.

·         Gerakan pemberantasan Buta Huruf (PBH), baik buta huruf Arab maupun Latin (1923)

·         Menerbitkan majalah wanita Suara ‘Aisyiyah (1925).

·         Membentuk badan federasi dengan nama Kongres Perempuan Indonesia (sekarang Kowani),  berjuang untuk membebaskan bangsanya dari kebodohan.

·         Mengadakan kursus bahasa indonesia (1930).

·         Mengadakan baby Show dalam rangka perhatiannya tentang kesehatan ibu dan Anak (1934).

·         Dalam kongres yang ke 27 di Medan diputuskan agar „Aisyiyah menambah usahanya, yaitu menyantuni anak yatim dan fakir miskin yang terkena musibah. Usaha yang lain adalah menambah pendirian taman kanak-kanak (Bustanul Athfal) (1939).

 

B.  Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA)

Kegiatan organisasi ini antara lain adalah pada tahun 1925 membeli sebuah rumah yang sekarang bernama Gedung Aisyiyah yang terletak di Kauman, Yogyakarta. Gedung ini digunakan sebagai pusat segala kegiatan. Tahun berikutnya 1926, kegiatan Nasyiatul „Aisyiyah sudah menghiasai majalah Suara Aisyiyah. Pada tahun 1929 anak-anak Nasyiatul „Aisyiyah sudah di kader menjadi calon guru dengan mengajar di taman kanak-kanak (Bustanul Athfal), terutama mereka yang sudah besar.

C. Hizbul Wathan

Pada tahun 1918 didirikan pula Hizbul Wathan sebagai wadah gerakan kepanduan Muhammadiyah. Kemudian sejak tahun 1923 digabungkan dengan lembaga pendidikan Muhammadiyah, yaitu majelis Pengajaran Muhammadiyah yang didirikan pada 14 juli 1923 dengan pelopor Mas Ngabel Djojosoegito. Tetapi  pada tahun 1926 Hizbil Wathan kembali berdiri sendiri.

Perkembangan organisasi Muhammadiyah sampai pada tahun 1935 telah mempunyai 110 cabang dengan anggota kurang lebih 250.000 orang anggota. Hingga sekarang organisasi Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi yang mempunyai andil besar dalam dunia pendidikan di negri Indonesia dengan berhasilnya membangun prasarana  pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak, sekolah dasar, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi atau Akademik. Di samping itu juga mempunyai berbagai macam sarana sosial seperti rumah sakit, yayasan yatim piatu, dan sebagainya.

 

5.      NAHDLATUL ‘ULAMA

Nahdah al-‘Ulama atau  Kebangkitan Ulama adalah salah satu organisasi sosial keagamaan di Indonesia yang didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 1926 di Surabaya atas prakarsa K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Organisasi ini berkedudukan ibu kota Negara, tempat pengurus besarnya berada. NU  berakidah Islam menurut paham Ahlussunah Wal Jama‟ah dan menganut mazhab empat  (Hanafi, Maliki, Syafi‟i, dan Hambali). Asasnya adalah Pancasila. [7]Tokoh pendirinya ialah K.H. Hasyim Asy‟ari dengan didukung oleh  para tokoh alim ulama yang diantaranya yaitu:

·         K.H. Abdul Wahab Hasbullah

·         K.H. Bisri Jombang

·         K.H. Ridwan Semarang

·         K.H. Nawawi Pasuruan

·         K.H. R. Asnawi Kudus

·         K.H. R. Hambali Kudus

·         K. Nakhrawi Malang

·         K.H. M. Alwi Abdul Aziz

·         K.H. Doromuntaha Bangkalan, dan lain-lain

 

Latar belakang lahirnya NU adalah maraknya kemunculan aliran-aliran baru yang menimbulkan perdebatan antara umat islam pada saat itu. Selain itu dalam ensiklopedi islam dikatakan bahwa tujuan pembentukan NU adalah untuk memperjuangkan berlakunya ajaran islam yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jama‟ah dan menganut mazhab empat ditengah-tengah kehidupan di dalam wadah negara.

Awal mula berdirinya NU dimulai ketika para tokoh islam pesantren, K.H. Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer mendirikan madrasah yang bernama  Nahdlatul Wathan  pada 1916 di Surabaya. Staf pengajar  Nahdlatul Wathan didominasi oleh ulama  pesantren, seperti Bisri Syansuri (1886-1980), Abdul Hakim Leimuding dan Abdullah Ubaid (1899-1938). Pada 1918, Abdul Wahab Hasbullah dan K.H. Ahmad Dahlan dari kebondalem mendirikan Tashwirul Afkar yaitu sebuah forum diskusi ilmiah keagamaan yang mempertemukan kelompok pesantren dan modernis. Pada tahun yang sama, Abdul wahab Hasbullah bersama K.H. Hasyim Asy‟ari mendirikan sebuah koperasi dagang yang bernama Nahdlatul Tujjar.Namun memasuki tahun 1920-an, hubungan antar kelompok islam pesantren dan modernis berubah menjadi  persaingan yang mengelompok.[8]

 

Usaha-usaha yang dilakukan NU antara lain:

·         Mengadakan silaturrahim

·         Memeriksa kitab-kitab yangakan dipakai untuk mengajar, apakah termasuk kitab ASWAJA atau kitab bid’ah.

·         Menyiarkan agama islam dengan baik.

·         Memperbanyak madrasah.

·         Mempertalikan hal-hal yang berhubungan dengan masjid, surau, pondok, anak yatim dan fakir miskin.

Dalam organisasi NU kekuasaan tertinggi dipegang oleh muktamar yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Konferensi besar ini  bertugas membicarakan pelaksanaan keputusan-keputusan muktamar, mengkaji  perkembangan organisasi serta perannya di tengah-tengah masyarakat, dan membahas masalah keagamaan dan kemasyarakatan. Program kerja NU meliputi tiga belas bidang garapan, yaitu bidang diniyah (keagamaan), bidang pendidikan dan kebudayaan, bidang dakwah, bidang Mabarrat (sosial), bidang perekonomian, bidang tenaga kerja, bidang pertanian dan nelayan, bidang generasi muda, bidang kewanitaan, bidang pemberdayaan sumber daya manusia, bidang  penerbitan dan informasi, bidang kependudukan, dan bidang lingkuangan hidup.

Badan otonom adalah perangkat organisasi NU yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan NU. Organisasi ini mempunyai sembilan badan otonom, yaitu:

·         Muslimat Nahdlatul Ulama

·         Gerakan Pemuda Anshor (GP Anshor)

·         Fatayat

·         Ikatan Putra Nahdatul Ulama (IPNU)

·         Ikatan Putri-Putri Nahdatul Ulama (IPPNU)

·         Jami‟iah Ahl at-Tariqah al-Mu’tabarah an-Nahdiyyah, organisasi pengikut tarekat Muktabarah di kalangan NU

·         Jam’iyah al Qurra wa al -Huffaz, organisasi qari dan penghafal Al-Qur’an

·         Persatuan Guru Nahdlatul Ulama

·         Ikatan Sarjana Islam Indonesia

 

 

KESIMPULAN

Organisasi-organisasi islam di Indonesia terbentuk karena faktor pembaruan  pemikiran islam yang di pelopori oleh orang-orang dari Timur Tengah seperti, Rasyid Ridha, Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan lain-lain. Pada awalnya pembaruan  pemikiran dibidang pendidikan yang dilakukan oleh orang-orang Arab di Indonesia yaitu Jami’atul Khair (1905) lalu berkembang dan timbullah organisasi sosial-keagamaan seperti, Sarekat Dagang Islam (SDI) di bogor (1909) yang kemudian menjelma menjadi organisasi Sarekat Islam (SI), lalu Muhammadiyah di Yogyakarta (1912), Persatuan Islam (Persis) di Bandung (1920), Nahdlatul Ulama di Surabaya (1926) dan lain- sebagainya.

Peran Organisasi-organisasi tersebut bisa dikatakan sangat luar biasa baik itu di  bidang ekonomi, pendidikan, politik, maupun dalam mencapai kemerdekaan bagi negara Indonesia. Hal tersebut juga masih kita rasakan sampai sekarang ini dimana organisasi-organisasi islam tersebut banyak yang masih eksis dan menjaga kestabilan di indonesia di dalam sebuah pemerintahan .

 

DAFTAR PUSTAKA

A.    Steenbrink, Kerel. 1986. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun  Modern, Jakarta: LP3ES

Abdullah, Taufiq dkk. 1997. Ensiklopedi Asia Tenggara. Jakarta: PT. Ichtiar Baru  Van Hoeve

      Dewan Redaksi Ensklopedi Islam. 1997. Ensklopedi Islam  Cet. 4. Jakarta: Ichtiar Baru Van     Hoeve

 Muhammadiyah, Hilmy dan  Sulthan Fatoni,. 2004. NU: Identitas Islam Indonesia. Jakarta: elSAS

Syaukani, Ahmad. 2001. Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam. Bandung: CV PUSTAKA SETIA

 

 

 

 



[1] Ahmad Syaukani, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2001),Hal. 123

[2] Ibid., hal. 125

[3] Taufiq Abdullah dkk, Ensiklopedi Asia Tenggara, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), hal. 369

[4] Kerel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES, 1986), hal. 78

[5] Ibid., hal. 89

[6] Ahmad Syaukani., Op.cit., hal. 119-120

[7] Dewan Redaksi Ensklopedi Islam, Ensklopedi Islam  Cet. 4, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), hal. 345

[8] Hilmy Muhammadiyah& Sulthan Fatoni,  NU: Identitas Islam Indonesia, (Jakarta: elSAS, 2004), h.117.

 

0 komentar:

Posting Komentar