PEMIKIRAN AL GHAZALI
Makalah Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Filsafat Islam
Disusun Oleh:
ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
TAHUN 2021
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penyusunan
Seiring bertambahnya usia maka bertambah pula rasa ingin tahu setiap individu. Ini merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap diri manusia. Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin termasuk kaum muslimin Indonesia. Tokoh terkemuka dalam filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seluruh dunia Pada abad ke-5, filsafat Islam mengalami perkembangan yang dapat dikatakan merubah pola filsafat Islam yang banyak dipertentangkan. Ini dibuktikan dengan pemikiran-pemikiran Imam Al Ghazali sebagai pionir filsafatnya yang dominan relevan dengan konsep Islam.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kami menyusun makalah yang berjudul Filsafat Al Ghazali sebagai kontribusi kecil kami dalam menambah khazanah keilmuan. Selain itu, ini juga sebagai bentuk tanggung jawab kami dalam memenuhi tugas makalah pada mata kuliah Filsafat Islam.
B. Rumusan Masalah
1.
1. 1. Bagaimana Riwayat Hidup Al Ghazali?
- Apa Saja Karya Yang Dibuat Al Ghazali?
- Bagaimanakah Filsafat Al Ghazali?
PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup Al Ghazali
Nama lengkapnya Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Ahmad Al Ghazali, lebih dikenal dengan Al Ghazali. Beliau lahir di kota kecil yang terletak di dekat Thus, Provinsi Khurasan, Republik Islam Irak pada tahun 450 H (1058 M). Nama Al Ghazali ini berasal dari ghazzal, yang berarti tukang pintal benang, karena pekerjaan ayahnya adalah memintal benang wol. Sedangkan Ghazali juga diambil dari kata ghazalah, yaitu nama kampung kelahiran Al Ghazali dan inilah yang banyak dipakai, sehingga namanya pun dinisbatkan oleh orang-orang kepada pekerjaan ayahnya atau kepada tempat lahirnya.
Ayahnya adalah orang jujur yang rajin mendatangi majelis pengajian. Beliau seringg menangis sembari berdoa agar kelak memiliki anak yang faqih dan ahli dalam ceramah dan nasehat. Sebelum wafat, beliau menitipkan kedua anaknya yaitu Al Ghazali dan saudaranya Ahmad kepada seorang teman. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.” Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat.
Sejak kecil, Al Ghazali dikenal sebagai anak yang senang menuntut ilmu. Karenanya, tidak heran sejak masa kanak-kanak, ia telah belajar dengan sejumlah guru di kota kelahirannya. Diantara guru-gurunya pada waktu itu adalah Ahmad Ibn Muhammad Al Radzikani. Kemudian pada masa mudanya ia belajar di Nisyapur juga di Khurasan, yang pada saat itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Ia kemudian menjadi murid Imam Al Haramaîn Al Juwaini yang merupakan guru besar di Madrasah An Nizhamiyah Nisyapur. Di sana beliau belajar teologi, hukum Islam, filsafat, logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam.
Berdasarkan kecerdasan dan kemauannya yang luar biasa, Al Juwaini kemudian memberinya gelar Bahrûm Mughriq (laut yang menenggelamkan). Al Ghazali kemudian meninggalkan Naisabur setelah Imam Al Juwaini meninggal dunia pada tahun 478 H (1085 M). Kemudian ia berkunjung kepada Nizhâm Al Mâlik di kota Mu’askar. Ia mendapat penghormatan dan penghargaan yang besar, sehingga ia tinggal di kota itu selama 6 tahun. Pada tahun 1090 M ia diangkat menjadi guru di sebuah madrasah Nizhamiyah, Baghdad.
Empat tahun lamanya Al Ghazali memangku jabatan tersebut, bergelimang ilmu pengetahuan dan kemewahan duniawi. Di masa inilah dia banyak menulis buku-buku ilmiah dan filsafat. Tetapi keadaan yang demikian tidak selamanya mententramkan hatinya. Akhirnya beliau turun dari jabatan tersebut kemudian menuju Mekkah, lalu ke Damaskus dan tinggal disana sembari mengasingkan diri untuk beribadah.
Al Ghazali mulai tentram dengan jalannya di Damaskus, yakni jalan sufi. Ia tidak lagi mengandalkan akal semata-mata, tetapi juga kekuatan nur yang dilimpahkan Tuhan kepada para hamba-Nya yang bersungguh-sumgguh menuntut kebenaran. Dari Damaskus ia kembali ke Baghdad dan kembali ke kampungnya di Thus. Di sini ia menghabiskan hari-harinya dengan mengajar dan beribadah sampai ia dipanggil Tuhan ke hadirat-Nya pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H (1111 M) dalam usia 55 tahun.
B. Karya-karya Imam Al Ghazali
Selesai mempelajari beberapa filsafat, baik Yunani maupun dari pendapat-pendapat filosof Islam, Al Ghazali mendapatkan argumen-argumen yang tidak kuat, bahkan banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, Al Ghazali mendebat argumen filosof Yunani dan Islam dalam beberapa persoalan. Di antaranya, Al Ghazali mendebat dalil Aristoteles tentang azalinya alam dan pendapat para filosof yang mengatakan bahwa Tuhan tidak mengetahui perincian alam dan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja. Ia pun menentang argumen para filosof yang mengatakan kepastian hukum sebab akibat semata-mata, mustahil adanya penyelewengan.
Al Ghazali mendapat gelar kehormatan Hujjatul Islâm atas pembelaannya yang mengagumkan terhadap agama Islam, terutama terhadap kaum bathiniyyah dan kaum filosof. Sosok Al Ghazali mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Dia seorang ulama, pendidik, ahli pikir dalam ilmunya dan pengarang produktif.
Karya-karya tulisnya meliputi berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Berikut beberapa warisan dari karya ilmiah yang paling besar pengaruhnya terhadap pemikiran umat Islam:
- Maqashid Al Falasifah (tujuan-tujuan para filosof), karangan pertama yang berisi masalah-masalah filsafat. Di dalamnya memuat pula ilmu-ilmu mantiq, fisika dan ilmu alam.
- Tahafut Al Falasifah
- Mi’yar Al ‘Ilm (kriteria ilmu-ilmu).
- Ihya` ‘Ulum Ad Dîn (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama), merupakan karya terbesarnya. Kitab ini membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa yang membahas perihal penyakit hati, pengobatannya dan didikan kepada hati.
- Al Munqidz Min Adl Dlalal (Sang Penyelamat dari Kesesatan). merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali dan refleksi sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai Tuhan. Karya al-Ghazali ini merupakan autobiografi (sejarah kehidupannya) yang memuat perkembangan intelektual dan spiritual pribadinya. Dalam karyanya ini al-Ghazali juga mendeskripsikan tentang penilaiannya terhadap metode para pencari kebenaran, jenis macam pengetahuan dan epistemologinya.
- Al Ma’arif Al ‘Aqliyyah (pengetahuan yang rasional).
- Misykat Al Anwar (lampu yang bersinar banyak), pembahasan akhlâq tashawuf.
- Minhaj Al ‘Abidin (jalan mengabdikan diri pada Tuhan).
- Al Iqtishad fî Al I’tiqad (moderasi dalam akidah).
- Ayyuhaa Al Walad (wahai anak).
- Al Mustasyfa (yang terpilih).
- Iljam Al ‘Awwam ‘an ‘Ilm Al Kalâm.
- Mizan Al ‘Amal (timbangan amal).
C. Filsafat Imam Al Ghazali
1. Filsafat Ketuhanan Al Ghazali
Pandangan Al Ghazali tentang
filsafat ketuhanan terdiri dari tiga masalah pokok yaitu:
a. Masalah Wujud
Al Ghazali mengikuti tradisi ulama kalam Al Asy’ari, dalam menetapkan wujud Tuhan. Beliau menggunakan dalil wujud Tuhan atas dua bentuk, yaitu dalil naqli dan dalil aqli. Penggunaan dalil naqli yakni melalui perenungan terhadap ayat-ayat Al Qur`ân sambil memperhatikan alam semesta sebagai ciptaan Tuhan bahwa dengan perenungan ayat dan fenomena alam yang serba teratur, manusia akan sampai pada pengakuan terhadap wujud Tuhan.
Ia menunjukkan wujud Tuhan melalui dalil aqli dan ia mempertentangkan wujud Allah dengan wujud makhluk. Wujud Allah adalah qadîm, sedangkan wujud makhluk adalah hadîts (baru). Wujud hadîts menghendaki sebab gerak yang mendahuluinya sebagai penggerak yang mengadakannya. Sebab musabab ini tidak akan berakhir sebelum sampai kepada Yang Qadîm yang tidak dicipta dan digerakkan. Sedangkan jika wujud Allah hadîts, tentu akan menghendaki sebab musabab seperti itu juga, yang sudah pasti tak akan ada pangkal pokok geraknya. Hal demikian adalah suatu hal yang mustahil dan tak akan menghasilkan apa-apa.
b. Masalah Dzat dan Sifat
Al Ghazali membatasi diri dari pembahasan tentang Dzat Tuhan dengan mengemukakan hadits Nabi Muhammad saw. yang melarang manusia memikirkan dzat Allah SWT. Dari itu, beliau menegaskan bahwa akal menusia tidak akan sampai mencapai dzat itu. Cukup bagi manusia hanya mengetahui sifat af’alnya saja. Sedangkan dalam membahas sifat Tuhan, Al Ghazali cenderung mengikuti para mutakallimîn dari madzhab Asy’ari. Beliau menetapkan adanya sifat dzat yang diistilahkan dengan sifat salbiyyah (sifat yang menafikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kesempurnaan dzat Allah SWT). Sifat salbiyyah ini ada lima, yaitu: Qidam (tidak berpemulaan), Baqa’ (kekal), Mukhalafah li Al Hawadits (berlainan dengan yang baru), Qiyamuh Bi Nafsih (berdiri sendiri) dan Wahdaniyyah (esa).
Sifat-sifat ini menafi’kan kesempurnaan makhluk dan menetapkan kesempurnaan Allah SWT. Selain sifat salbiyyah, adapula sifat ma’âni (sifat-sifat yang melekat pada dzat Allah SWT.) Dia bukanlah dzatnya dan adanya sifat ini bersamaan dengan adanya Allah SWT. dan tidak dapat dipisahkan dari dzatnya. Sifat ma’âni ada tujuh yaitu: Qudrah (Maha Kuasa), Iradah (Maha Berkehendak), ‘Ilmu (Maha Mengetahui), Sama’ (Maha Mendengar), Bashar (Maha Melihat), Kalam (Maha Berbicara) dan Hayat (Maha Hidup).
c. Masalah Af’al
Al Ghazali berpendapat bahwa perbuatan Allah SWT. tidak terbatas dalam menciptakan alam saja, tetapi Allah SWT. juga menciptakan perbuatan manusia dan ikhtiarnya. Perbuatan manusia tidaklah terlepas dari kehendak Allah SWT. Manusia hanya diberi kekuasaan dalam lingkungan kehendak Tuhan. Jadi pebuatan dan ikhtiar manusia adalah terbatas dan tidak akan melampaui garis-garis qadar. Dalam menguraikan af’al ini, Al Ghazali mengembalikan permasalahan kepada firman Allah SWT dalam Q.S. Fathir ayat 8.
2. Tasawuf Al Ghazali
Al Ghazali pernah berkata “Cahaya itu adalah kunci dari kebanyakan pengetahuan, dan siap yang menyangka bahwa kasyf (pembukaan tabir) bergantung pada argumen-argumen, sebenarnya telah mempersempit rahmat Tuhan yang demikian luas… Cahaya yang dimaksud adalah cahaya yang disinarkan Tuhan dalam hati sanubari seseorang.”
Berdasarkan ungkapan dia tersebut, dapat disimpulkan bahwa satu-satunya pengetahuan yang menimbulkan keyakinan akan kebenarannya bagi Al Ghazali adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan Tashawuf. Ungkapan ini ada setelah dia tidak merasa puas dengan ilmu kalam dan filsafat serta meninggalkan kedudukannya yang tinggi di Madrasah Nizhamiyah, Baghdad tahun 1095 M.
3. Filsafat Etika/ Akhlâq Al Ghazali
Tujuan dari butir-butir nilai akhlaq yang dikemukakannya adalah sebagai sarana mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah SWT) dengan arti membuka penutup yang membatasi diri manusia dengan Tuhannya, karena menurut Al Ghazali, akhlaq sangat terkait erat dengan filsafat ketuhanannya.
Menurut Al Ghazali, akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dan tindak-tanduk dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dalam hal ini, terdapat persamaan antara Imam Al Ghazali, Ibn Maskawaih dan Tusi, bahwa akhlaq harus dimulai dengan pengetahuan tentang jiwa, kekuatan dan sifat-sifatnya. Karena ia merupakan sumber kebaikan, kebahagiaan dan sebaliknya.
Sedangkan mengenai jiwa, sebagaimana Tusi dan filosof lainnya, Al Ghazali membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu: jiwa bernafsu (an nafs al bahimiyyah) yang berasal dari materi, jiwa berani (an nafs as sabu’iyyah) dan jiwa berfikir (an nafs an nathiqah) yang berasal dari ruh Tuhan yang tidak akan hancur. Al Ghazali juga membuat tabulasi kebaikan pokok, yang terdiri dari empat hal, yaitu kebijaksanaan, keberanian, menjaga kesucian dan keadilan. Empat hal ini merupakan jalan tengah dari ketiga jenis jiwa tadi. Dan untuk mencapai jalan tengah ini, diperlukan akal yang berfungsi efektif bagi terciptanya posisi tengah jiwa berpikir dan syari’at berfungsi efektif untuk terciptanya posisi tengah jiwa bernafsu dan berani.
Ihya` ‘Ulum Ad Din merupakan salah satu karya Al Ghazali yang salah satunya membahas tentang pemikiran filsafat etikanya. Dikatakan bahwa filsafat etika Al Ghazali adalah Tashawuf Al Ghazal, yang memiliki tujuan pokok:
التخلّق بالأخلاق الله على طاقة البشرية atau الصفات الرحمن على طاقة البشطي
Maksudnya adalah manusia semampunya meniru keteladanan sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih, penyayang, pengampun (pemaaf), serta sifat-sifat yang disukai Tuhan, seperti sabar, jujur, takwa, zuhud, ikhlas, beragama dan lainnya.
Akhlaq merupakan keseimbangan antara daya ilmu dan daya pengendalian amarah. Dan jalan untuk mencapai akhlaq ialah dengan naluri insani serta latihan-latihan. Latihan ini dilakukan dengan amal-amal. Adapun tujuan dari akhlaq luhur adalah menahan diri dari mencintai dunia wujud dan mengalihkannya kepada nikmatnya mencintai Allah SWT.
Al Ghazali berpendapat bahwa watak manusia pada dasarnya adalah seimbang, dan lingkungan serta pendidikan yang salahlah yang memperburuknya. Sebagaimana prinsip Islam, Al Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang berkuasa dan sangat memelihara dan menjadi rahmatan lil ‘alamîn. Untuk taqarrub pada Allah, yang terpenting adalah muqarabah dan muhasabah. Adapun kesenangan menurut Al Ghazali ada dua, yaitu kepuasan (ladzdzat) ketika mengetahui kebenaran sesuatu dan kebahagiaan (sa’adah) ketika mengetahui kebenaran sumber dari segala kebahagiaan itu sendiri (ma’rifatullâh disertai musyahadah al qalb).
KESIMPULAN
Nama lengkap Al Ghazali Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Ahmad Al Ghazali, lebih dikenal dengan Al Ghazali. Beliau lahir di kota kecil yang terletak di dekat Thus, Provinsi Khurasan, Republik Islam Irak pada tahun 450 H (1058 M). Ayahnya hanyalah seorang pemintal benang wol yang memiliki sifat jujur dan rajin mendatangi majelis pengajian. Sepulang dari pengajian beliau selalu berdoa agar kelak anak-anaknya mampu memjadi faqih dan ahli ceramah.
Masa mudanya dihabiskan untuk menimba berbagai ilmu, hingga akhirnya beliau diangkat sebagai guru di madrasah Nizhamiyah Baghdad. Di sana beliau hidup makmur bahkan beliau banyak menuliskan karya-karya. Namun kemudian beliau memilih jalan sufi dengan mengasingkan diri dan bertafakur di Damaskus. Karya beliau yang sangat mendunia yaitu Ihya’ Ulum Ad Din, dimana kitab tersebut merupakan karya terbesarnya. Kitab ini membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa yang membahas perihal penyakit hati, pengobatannya dan didikan kepada hati.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Yunasril. 1991. Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam.
Jakarta: Bumi Aksara.
Atabik, Ahmad. 2014. Telaah Pemikiran Al Ghazali Tentang Filsafat.
Kudus: Fikrah Vol.1 No.1
Hanafi, Ahmad. 1990. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Mustofa, A. 2007. Filsafat Islam. Bandung:
CV Pustaka Setia.
Nasution, Hasyim Syah. 1999. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media
Pratama.
Sirajuddin. 2007. Filsafat Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suseno, Magniz Franz. 2000. Dua Belas Tokoh Etika Abad Ke-20.
Yogyakarta: Kanisius.
Syadali, Ahmad Mudzakir, dkk. 1997. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka
Setia.
0 komentar:
Posting Komentar