TIANG LISTRIK DI SEBERANG JALAN
by: afnikaafnii
Pagi menyerbu, riak kecil angin membuat suasana selepas subuh makin dingin. Aku melirik ke ujung gang, beberapa warga baru saja pulang dari surau, menunaikan kewajibaannya pada tuhan.
“tampan sekali sih, kan aku jadi ambyar,” dewi batinku menjerit, lagi lagi melihat sosok mas Bayu, sudah tampan rajin ibadah juga sangat menyayangi keluarga, gini nih tipe tipe yang punya vibes minta segera dihalalin, ehh. Mas Bayu berjalan mendekat, langkahnya pelan sambil mengimbangi ayunan kaki seorang kakek di sebelahnya.
“ Kerjaanmu piye yu ?”
“Alhamdulillah apik mbah, lancar “
“ Owalah yowes sukur, dijaga tenan kuwi kerjaanmu, jaman saiki golek kerja kuwi susah, ora peduli sampean sarjana enom, nek pegawai wes kebak yo ra iso ketompo “, sekilas itu yang kudengar dari percakapan mereka. Mas Bayu melewatiku tanpa melirik, masih dengan langkah pelan di sebelah kakek tadi, mas Bayu bukannya tidak melihatku, dia pasti sangat jelas melihat penampakanku yang berdiri di sebelah jalan, satu hal yang membuatku pudar di mata orang, bahwa aku ini… tiang listrik.
Pukul 6 pagi seperti biasa mas Bayu berangkat bekerja, dia ini seorang teller bank, mas Bayu berangkat pagi karena dia mengambil kerja tambahan di pasar, menjadi kurir pengantar barang yang khusus beroperasi di pagi hari, langkah kakinya berjalan melewatiku, ehem, bukan hanya melewatiku sih, juga menekan turun saklar yang terpasang di tubuhku,
“Sudah jam 6, matahari juga mulai melirik, tidak baik lampu menyala terus, pemborosan”, begitu petuah mas Bayu pada tetangga yang julid, mengatainya rajin sekali tiap hari mematikan lampu jalan.
“Biar saja lampu menyala, kan yang bayar pemerintah”, balas si tetangga. Yee dasar julid, pemerintah bayar juga dari duitnya warga, sekali lagi dewi batinku ingin teriak, ikut membela mas Bayu, ahh tapi kalau diingat kembali, tidak bisa, aku bisu, pun kaku, karena aku hanya… tiang listrik.
Pukul 5 sore aku melihat Nina, adiknya mas Bayu dibonceng seorang laki laki, ‘tampan juga,’ sisi girangku keluar, ‘tapi masih cakep mas Bayu’, oke fix, sisi budak cinta mas Bayuku berteriak tak terima.
“Baru pulang kamu, sama siapa sih Nin? mas lihat kok kamu ganti pacar lagi?, yang kemarin putus ?”, kalimat itu meluncur fasih dari lidah mas Bayu.
“ Iya baru lagi dong, yang lama mah ngga punya apa apa, ngga bisa apa apa, kere “,yee dasar abege, ingin rasanya kutimpuk pake kayu kepala si Nina itu, dasar ngga sopan, mas Bayu menghela napas saja, aku tau dia juga lelah menghadapi sifat adiknya, baru juga kelas 2 SMA, kelakuannya sudah diluar batas angan kakaknya.
Mas Bayu menggiring Nina masuk kearah rumah mereka, mereka tinggal bertiga dengan bibinya , sekedar yang aku tau, orang tua mas Bayu memilih bercerai ketika mas Bayu masih sekolah dasar, mereka enggan membawa anak hasil pernikahan karena sama sama ingin bebas, begitulah, singkat cerita yang aku tau dari omongan warga kalau mas Bayu itu, anak yang ditinggalkan.
Paginya, sambil aku melirik mas Bayu yang dengan telaten menekan saklar di tubuhku, bisa kulihat si tidak sopan Nina keluar rumah, sudah rapi dengan pakaian SMA nya, hanya saja tertutup jaket. Sekedar informasi tadi malam turun hujan deras, penutup saklarku terbuka karena angin kencang, membuatnya basah, pasti mas Bayu takut kesetrum.
” Berangkatnya pagi banget?”
“ Iya nih, udah dijemput, sekalian mau cari sarapan di luar “
“ Nin, bukannya mas larang kamu pacaran tapi apa ngga bisa nanti aja pacarannya, nunggu kamu lulus ?”, petuah mas Bayu, dia sudah selesai mematikan saklar lampu.
“ Apasih mas Bayu nih, sok ngatur deh “, fix si Nina itu harus di sekolahkan dulu mulutnya.
“ Setidaknya jangan sama cowok itu, mas liat dia bon..”
“ Bilang aja mas iri ngga punya pacar “, putusnya dengan nada ketus, kemudian berlari mendekati si pacar, yang ternyata sudah berada disana sekitar lima menit, entah dia mendengar perdebatan kakak adik itu atau tidak.
“ Maa, lihat anakmu, mas cape “, lirih, sendu, pelan, tapi aku dengar, karena semenjak adiknya berlari fokusku jatuh ke pemuda itu, ahh mas Bayu juga manusia kan?, jiwa raganya pasti merasa lelah, apalagi dia sangat diandalkan oleh orang orang di rumahnya. Yaa ampun , berdosa sekali si Nina itu.
Pukul 8 malam , kudengar keributan di rumah mas Bayu, entahlah tidak terdengar jelas, sepintas ada suara perempuan berteriak, pastinya bukan bibi, sore tadi kulihat beliau naik angkot sambil membawa tas besar, ada acara rutinan keluarga di kampung, makanya bibi pulang. Begitu penjelasan dari mas Bayu yang sempat kudengar. Kembali lagi dengan suara teriakan tadi, tidak ada tetangga yang keluar sekedar melihat keadaan, entahlah, apa mereka tidak terganggu?.
Beberapa saat kemudian kulihat adik mas Bayu keluar rumah, sambil mengeluarkan handphone dari saku celana.
“ Halo sayang.. ohh oke di depan toko.. iya aku kesana, daah sayang “ panggilan terputus, sayang ndasmu, setelahnya kulihat mas Bayu keluar rumah, napasnya putus putus, melirik kanan kiri seperti mencari sesuatu, atau seseorang mungkin, apa mencari Nina?.
Tiga hari berlalu, mas Bayu tetap bekerja seperti biasa, bedanya, aku tidak lagi melihat Nina. Adiknya mas Bayu itu, baru kutahu dia kabur dengan pacarnya, mungkin mau dibawa kawin lari seperti yang sedang trend di sinetron tanah air. Aku tau dari obrolan pak RT pagi tadi selepas subuh, kalau mas Bayu khawatir sekali dengan keadaan adiknya, Nina itu keluarga kandung mas Bayu satu satunya, setelah ibu bapaknya menitipkan mereka pada adik mama yang kerap dipanggil bibi, sebab kata mama bibi ngga bisa punya anak, jadi mas Bayu dan Nina ngga papa dititipkan kesana, nyatanya, kata dititipkan itu malah bermakna selamanya.
“ Harus dicari kemana lagi ya pak ? saya sudah tanya ke teman temannya dia, guru sekolah, kantor polisi, sampai tukang jual pulsa langganan Nina juga saya tanyain, belum ketemu juga “, mas Bayu menunduk, lelah dan sedih, pasti, “ nasib baik bibi tidak di rumah, setidaknya hanya saya yang khawatir sama Nina, bibi jangan ikut sedih, ini masalah saya yang tidak bisa menjaga Nina”, tuuh tuuuh dengar atuh Nina, ahh mas Bayu kamu memang hati malaikat.
Tujuh hari pasca menghilangnya Nina, mas Bayu masih berangkat bekerja, prinsip hidupnya, sedih tak apa, asal jangan mengorbankan kepentingan yang lain, disini mas Bayu masih punya tanggung jawab sebagai pekerja, banting tulang untuk menghidupi sisa keluarga yang dimiliki, ada bibi dan Nina yang entah dimana sosoknya. Tapi sore itu ada yang berbeda, mas Bayu pontang panting berlari pulang ke rumah, tanpa melirikku, sudah biasa, tapi untuk apa mas Bayu berlari, kelihatan buru buru sekali.
“ Atas saudara Bayu Arkana ? “, mas Bayu mengangguk sebelum polisi melanjutkan “ Kami menemukan saudari Nina Dewi Niara pagi tadi di depan kantor kami, ketika kami bertanya ternyata dia hampir saja menjadi korban perdagangan manusia, menurut penuturannya, dia hampir dijual oleh pacarnya, laki laki yang baru dikenal selama empat minggu, kami sudah menginterogasi saudari Nina untuk mencari bukti lebih banyak, sekaligus agar kasus ini segera terpecahkan, juga pelaku segera ditangkap”, begitu cerita dari pak polisi, singkat cerita mas Bayu menanyakan dimana adik kesayangannya, ahh Nina Dewi Niara namanya, terduduk ketakutan di jok belakang mobil polisi, membuat mas Bayu bukan main sedihnya.
“ Mas disini dek, mas disini, masuk rumah yuk, ngga papa, ada mas Bayu “, bujuknya halus, sementara, mulut adiknya masih terkunci rapat, ada air bening di ujung matanya, “ ngga papa dek, mas ngga marah, asal Nina udah balik, selamat ngga kurang apa apa, masuk rumah yuk, bibi ngga ada kok, masih di kampung, ngga usah malu”, ahh, sungguh, terbuat dari apa hatinya?, Bayu Arkana namanya, laki laki muda yang tak diinginkan untuk ikut hidup bersama orang tua kandungnya, laki laki berhati emas pun berbakti menjadi tulang punggung keluarga, Bayu Arkana namanya, pun sebening itu hatinya.
Menjelang magrib, mobil polisi berlalu pergi, setelah sebelumnya mas Bayu tawarkan sekedar minum kopi, yang petugas polisi tolak dengan alasan masih jam tugas, baiklah tak apa, yang penting sudah dijelaskan sebelumnya perkara sang adik, Nina sudah diajak masuk rumah sedari tadi, mungkin sedang menyendiri di kamar, sebab kulihat lampu kamarnya menyala, ada siluet tubuhnya disana, masih meringkuk diatas tempat tidur.
Ahh,, dasar kehidupan manusia, ada saja rumitnya yang melebihi matematika, makanya berhati-hatilah dengan tindakanmu, jangan dengan mudah mengambil keputusan, lihat dulu konteksnya, ada kalanya kita sudah diberi yang baik baik, tapi kurang bersyukur, membuat kita berpaling, yang mana berpaling itu membawa penyesalan, menyiksa ruang sadar.
0 komentar:
Posting Komentar