MAKALAH KINAYAH
I . PENDAHULUAN
Syaikh
al-Ghulayaini menyatakan, bahwa untuk dapat memahami bahasa Arab sebagai bahasa
al-Quran dan Hadits Nabi SAW dengan
baik, dibutuhkan 13 macam ilmu, yaitu : ilmu sharaf, I’rab (nahwu), rasm,
ma’ani, bayan, badi’, ‘arudh, qawafi, qardl al syi’r, insya’, khitobah, tarikh
adab dan matn al-lughoh.[1]
Bayan yang
merupakan salah satu dari kemampuan atau keilmuan yang harus di ketahui untuk memahami Bahasa
Arab, memiliki pokok-pokok pembahasan, diantaranya : Tashbih, Hakikat dan
Majaz, Kinayah. Ilmu bayan sendiri ada atau disusun setelah Ilmu Sharaf
yang untuk mengetahui berbagai bentuk lafaz, kemudian Ilmu Nahwu yang
untuk mengetahui mengetahui kedudukan kata-kata yang tersusun dari padanya.
Kemudian baru Ilmu Bayan yang untuk mengetahui permasalahan
mengenai susunan kalimat.
Kemudian, pokok
bahasan penting ilmu bayan salah satunya
yakni kinayah. Keberadaan kinyah sangatlah penting karena banyak sekali
teks teks berbahasa arab yang menggunakan kinayah untuk memperindah makna.
Kinayah sendiri merupakan istilah terkait perubahan makna. Kinayah terkait
pergeseran perubahan suatu ungkapan dari makna denotatif kepada makna knotatif,
akan tetatpi dibolehkan mengambil makna denotatif. Oleh karena itu, kami
penulis merasa perlu membahas dalam makalah ini dengan ruang lingkup rumusan
masalah; Apa Pengertian Kinayah? Ada berapa macam pembagianya? Apa saja
tujuan kinayah?
II. PEMBAHASAN
A.
Pengertian
1.
Secara bahasa
Secara
bahasa kinayah berasal dari lafadz كنا-
يكنو/ كنى- يكنى- كناية yang
berarti menerangkan sesuatu dengan perkataan lain atau mengatakan dengan kiasan
atau sindiran.
2. Secara Istilah
الكناية
هي لفظ أطلق وأريد به لازم معناه مع جواز إرادة المعنى الأصلى غالبا
Al
kinayah adalah lafadz yang disampaikan dan yang dimaksud adalah kelaziman
maknanya, disamping boleh juga yang dimaksud pada arti yang sebenarnya.
Contohnya
:
احمد
طويل النجاد
Ahmad
adalah orang yang panjang rangka pedangnya
Maksudnya
adalah ahmad seorang pemberani dan bertubuh besar. Sebab panjangnya rangka
pedang , biasanya menandakan pemiliknya berpostur tinggi. Dan tubuh yang tinggi
biasanya menandakan memiliki keberanian. Jadi, ketinggian badanya (lazimnya
atau hal yang menetap padanya), meskipun dia tidak menyandang pedang
Tetapi
dengan ketentuan itu semua, sah juga menghendaki makna asalnya atau makna
hakikinya, yaitu panjangnya tempat menyandang pedang
Contoh dalam al
Quran
..)وَمَا
جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ
الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى
عَقِبَيْهِ... (البقرة: ١٤٣
Artinya: Dan Kami tidak menetapkan
kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui siapa yang
mengikuti Rasul dan siapa yang “berbalik ke belakang”.
Maksudnya adalah orang yang murtad
karena kembali lagi ke kekafirannya.
B.
Pembagian Kinayah
1. Dilihat
dari segi maknanya kinayah terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. كناية
عن صفة
Kinayah
Sifat adalah kinayah yang berupa sifat. Mukanna ‘anhunya berupa sifat yang
menetap di maushufnya( menentukan sifat untuk maushuf)
Kinayah
sifat sendiri terbagi menjadi dua, yaitu:
1)
Kinayah qaribah
yaitu kinayah yang perpindahan makna dari lafadz yang di kinayahkan
(mukanna‘anhu) kepada lafadz kinayah (mukanna bih) tanpa melalui perantara.
Contoh:
فلان
ثوبه طويل, وقلنسوته كبيرة, وحذاؤه يتّسع لقدميه أي هو طويل القامة, عظيم الرأس,
كبير القدم
Fulan
panjang bajunya, besar songkoknya, dan luas sepatu untuk kakinya yang bermakna
perawakannya tinggi, besar kepala, besar telapaknya.
Contoh dalam firman Allah QS.Nuh ayat 7:
وَإِنِّي كُلَّمَا
دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ
وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْوَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا
“Dan
sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau
mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan
menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan
menyombongkan diri dengan sangat.” (Nuh: 7)
2)
Kinayah ba’idah yaitu
kinayah yang perpindahan makna dari lafadz yang di kinayahkan (mukanna ‘anhu)
kepada lafadz kinayah (mukanna bih) melalui perantara.
Contoh:
كثير الرماد yang bermakna banyak abunya. Namun yang
dimaksud bukanlah makna yang sebenarnya, melainkan makna lain yang menjadi
kelazimannya. Yang dimaksud oleh al Khanza adalah seorang yang banyak abunya
banyak menyalakan api, orang yang banyak menyalakan api berarti banyak memasak,
orang yang banyak memasak berarti banyak tamunya, orang yang banyak tamunya
berarti dermawan.
b. كناية
عن موصوف
Kinayah
maushuf yaitu kinayah yang mukanna ‘anhunya berupa maushuf. Pada kinayah ini di
syaratkan sifatnya harus khusus untuk maushuf.
Contoh:
تطورت
وسائل الانتقال والسفر من سفينة الصحراء إلى ماخرة البحار ومن ذوات الصهيل إلى
بنات الهواء
“Alat
transportasi dan perjalanan kini telah berevolusi dari perahu padang pasir
menjadi pembelah lautan dan dari kendaraan meringkik menjadi anak-anak udara”..
c. كناية
عن نسبة
Kinayah
nisbah yaitu kinayah yang mukanna ‘anhunya atau lafadz-lafadz yang dikinayahkan
adalah maushuf.
متقرب
من صاحبي فإذا مشت في عطفه الخيلاء لم
أتقرب
“aku
(selalu) mendekati sahabatku, namun jika kesombongan mengalir dalam emosinya
maka aku tidak mendekatinya”
Emosi
= orangnya.
2.
Dilihat dari segi perantara (media) atau kelazimannya, kinayah terbagi menjadi
empat,yaitu:[5]
a. Ta’ridh
( تعريض
)
Yaitu
perkataan untuk menunjukkan suatu makna yang tidak disebutkan (tidak terang
maksudnya)
Contoh:
المسلم
من سلم المسلمون من لسانه
”Seorang
muslim yang sebenarnya adalah yang tidak mengganggu muslim yang lainnya dengan
lisan dan tangannya”
Contoh
tersebut mengisyaratkan tiadanya sifat islam dari orang yang menyakiti.
b. Talwih
(تلويح )
Yaitu
kinayah yang diantara mukanna bih dan mukanna ‘anhu terdapat media atau
perantara yang banyak.
Contoh:
وَمَا
يَكُ فِيَّ مِنْ عَيْبٍ فَإِنَّى # جَبَانُ الكَلْبِ مَهْزُوْلُ الْفَصِيْلِ
“padaku
tidak terdapat aib # Karena aku adalah pengecut anjingnya dan kurus anak
sapinya.”
Pada
syi’ir tersebut terdapat ungkapan “جَبَانُ
الكَلْبِ” dan “مَهْزُوْلُ
الْفَصِيْلِ”. Kedua ungkapan ini
pada dasarnya menggunakan gaya bahasa kinayah. Kedua ungkapan ini bermakna
seseorang yang mulia.
c.
Ramz ( رمز )
Yaitu
kinayah yang diantara mukanna bih dan mukanna ‘anhunya terdapat sedikit media
atau perantara.
Contoh:
فُلَانُ
عَرِيْضُ القَفَا وَعَرِيْضُ الوِسَادَةْ
Si
fulan lebar tengkuknya dan lebar bantalnya
sebagai
kinayah untuk mengungkapkan orang idiot atau bodoh.
d. Imak
atau isyaroh ( الإيماء
أو الإشارة )
Yaitu
kinayah yang diantara mukanna bih dan mukanna ‘anhunya tidak banyak terdapat
media atau perantara,dan tidak samar.
Contoh:
فاصبح
يقلب كفيه على ما انفق فيها وهي خاوية) الكهف : ٤٣)
“maka
ia membolak-balikkan kedua telapak tangannya terhadap apa yang ia infakkan,
sedangkan telapak tangannya itu kosong”.
Pada
ayat di atas terdapat ungkapan “يقلب
كفيه” makna asal ungkapan
tersebut adalah ‘membolak-balikkan kedua telapak tangannya’. Ungkapan tersebut
merupakan ungkapan kinayah yang maksudnya menyesal.
C.
Tujuan kinayah
Adapun
tujuan dari kinayah adalah:
1.
Menjelaskan
Kinayah
ini digunakan untuk menggambarkan satu peringatan dengan gambaran yang tampak
dan kelihatan, seperti ungkapan dibawah ini:
قَرَعَ
اَحْمَدٌ سِنَّهُ
Ahmad
menghentakkan giginya (marah)
2.
Meringkas kalimat
Ungkapan
kinayah bisa digunakan untuk meringkas suatu kalimat atau ungkapan yang
panjang.
Contoh:
فُلَانٌ
مَهْزُوْلُ الْفَصِيْلِ
Si
Fulan itu kurus anak sapinya
Contoh
firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat
24
فَإِنْ لَمْ
تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوْاالنَّارَ الَّتِي وَقُوْدُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّ تْ لِلْكَافٍرِيْنَ ( البقرة : ٢٤)
Artinya:
”Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat
membuat(nya). Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan
batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”
Pada
ayat فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا ungkapan diatas merupakan ringkasan dari
اي فإن لم
تأتوا بسورة من مثله. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا
3.
Mengganti dengan kata-kata yang sebanding karena dianggap jelek
Penggunaan
kinayah dalam mengungkapkan suatu ide bisa juga bertujuan untuk mengganti suatu
kata yang dianggap jelek untuk diucapkan.
Contoh:
هوثقيل السمع
Dia
berat pendengarannya
4.
Memelihara kesopanan (Menghindari kata-kata yang dianggap malu untuk
diungkapkan)
Jika
seseorang ingin mengungkapkan suatu gagasan dan dia menganggap bahwa kata-kata
yang diucapkannya kotor atau kurang sopan untuk diucapkan, atau karena dia malu
mengungkapkannya, maka bias menggunakan bahasa lain sebagai kinayah atasnya.
Contoh:
اَوْلمَسْتُمُ النِّسَاءَ yakni اَوْ
جَامَعْتُمُ النِّسَاءَ menurut sebagian tafsir atau اَلآنَ
بَاشِرُوْهُنَّ yakni الآنَ
جَامِعُهُنّ
5. Menutupi nama orang
Seperti:
اَهْلُ الدَّارِ yang artinya penghuni
rumah sebagai bentuk kinayah dari istrinya.
III. PENUTUPAN
a.
Kesimpulan
Kinayah secara
bahasa yaitu menerangkan sesuatu dengan perkataan lain atau mengatakan dengan
kiasan atau sindiran
Sedangkan
secara istilah kinayah adalah lafadz yang disampaikan dan yang dimaksud adalah
kelaziman maknanya, disamping boleh juga yang dimaksud pada arti yang
sebenarnya.
Pembagian kinayah, Dilihat dari maknanya:كناية عن صفة ,
,كناية عن موصوف, كناية عن نسبة.
Dilihat dari segi perantara:Ta’ridh
( تعريض ), Talwih (تلويح ), Ramz
( رمز ), Imak atau isyaroh ( الإيماء أو
الإشارة )
Tujuan
kinayah:Menjelaskan dan Meringkas
kalimat, Mengganti dengan kata-kata yang sebanding karena dianggap jelek,
Memelihara kesopanan (Menghindari kata-kata yang dianggap malu untuk
diungkapkan)
b.
Penutup
Alhamdulillah
kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan
rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari bahwa
makalah ini jauh dari sempurna, banyak kekurangan yang terdapat didalamnya.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat pemakalah harapkan demi
kebaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
[1] Muhamad Zamroji, Mutiara Balaghah Nadzam al-Jauhar al-Maknun
(Blitar : Pena santri, 2017), hal v
0 komentar:
Posting Komentar