Kamis, 11 April 2019


MAKALAH KINAYAH


I  . PENDAHULUAN
Syaikh al-Ghulayaini menyatakan, bahwa untuk dapat memahami bahasa Arab sebagai bahasa al-Quran dan Hadits Nabi SAW  dengan baik, dibutuhkan 13 macam ilmu, yaitu : ilmu sharaf, I’rab (nahwu), rasm, ma’ani, bayan, badi’, ‘arudh, qawafi, qardl al syi’r, insya’, khitobah, tarikh adab dan matn al-lughoh.[1]
Bayan yang merupakan salah satu dari kemampuan atau keilmuan  yang harus di ketahui untuk memahami Bahasa Arab, memiliki pokok-pokok pembahasan, diantaranya : Tashbih, Hakikat dan Majaz, Kinayah. Ilmu bayan sendiri ada atau disusun setelah Ilmu Sharaf yang untuk mengetahui berbagai bentuk lafaz, kemudian Ilmu Nahwu yang untuk mengetahui mengetahui kedudukan kata-kata yang tersusun dari padanya. Kemudian baru Ilmu Bayan yang untuk mengetahui permasalahan mengenai  susunan kalimat.
Kemudian, pokok bahasan penting ilmu bayan salah satunya  yakni kinayah. Keberadaan kinyah sangatlah penting karena banyak sekali teks teks berbahasa arab yang menggunakan kinayah untuk memperindah makna. Kinayah sendiri merupakan istilah terkait perubahan makna. Kinayah terkait pergeseran perubahan suatu ungkapan dari makna denotatif kepada makna knotatif, akan tetatpi dibolehkan mengambil makna denotatif. Oleh karena itu, kami penulis merasa perlu membahas dalam makalah ini dengan ruang lingkup rumusan masalah; Apa Pengertian Kinayah? Ada berapa macam pembagianya? Apa saja tujuan kinayah?



II. PEMBAHASAN
A.    Pengertian
1.      Secara bahasa
Secara bahasa kinayah berasal dari lafadz كنا- يكنو/ كنى- يكنى- كناية   yang berarti menerangkan sesuatu dengan perkataan lain atau mengatakan dengan kiasan atau sindiran.

2.      Secara Istilah
الكناية هي لفظ أطلق وأريد به لازم معناه مع جواز إرادة المعنى الأصلى غالبا
Al kinayah adalah lafadz yang disampaikan dan yang dimaksud adalah kelaziman maknanya, disamping boleh juga yang dimaksud pada arti yang sebenarnya.

Contohnya :
احمد طويل النجاد 
Ahmad adalah orang yang panjang rangka pedangnya
Maksudnya adalah ahmad seorang pemberani dan bertubuh besar. Sebab panjangnya rangka pedang , biasanya menandakan pemiliknya berpostur tinggi. Dan tubuh yang tinggi biasanya menandakan memiliki keberanian. Jadi, ketinggian badanya (lazimnya atau hal yang menetap padanya), meskipun dia tidak menyandang pedang
Tetapi dengan ketentuan itu semua, sah juga menghendaki makna asalnya atau makna hakikinya, yaitu panjangnya tempat menyandang pedang

Contoh dalam al Quran
..)وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ... (البقرة: ١٤٣
Artinya: Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang “berbalik ke belakang”.
Maksudnya adalah orang yang murtad karena kembali lagi ke kekafirannya.

B.     Pembagian Kinayah
1. Dilihat dari segi maknanya kinayah terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. كناية عن صفة
Kinayah Sifat adalah kinayah yang berupa sifat. Mukanna ‘anhunya berupa sifat yang menetap di maushufnya( menentukan sifat untuk maushuf)
Kinayah sifat sendiri terbagi menjadi dua, yaitu:
1)      Kinayah qaribah yaitu kinayah yang perpindahan makna dari lafadz yang di kinayahkan (mukanna‘anhu) kepada lafadz kinayah (mukanna bih) tanpa melalui perantara.
Contoh:
فلان ثوبه طويل, وقلنسوته كبيرة, وحذاؤه يتّسع لقدميه أي هو طويل القامة, عظيم الرأس, كبير القدم
Fulan panjang bajunya, besar songkoknya, dan luas sepatu untuk kakinya yang bermakna perawakannya tinggi, besar kepala, besar telapaknya.

Contoh dalam firman Allah QS.Nuh ayat 7:
 وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْوَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا
“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (Nuh: 7)
2)       Kinayah ba’idah yaitu kinayah yang perpindahan makna dari lafadz yang di kinayahkan (mukanna ‘anhu) kepada lafadz kinayah (mukanna bih) melalui perantara.
Contoh:
كثير الرماد yang bermakna banyak abunya. Namun yang dimaksud bukanlah makna yang sebenarnya, melainkan makna lain yang menjadi kelazimannya. Yang dimaksud oleh al Khanza adalah seorang yang banyak abunya banyak menyalakan api, orang yang banyak menyalakan api berarti banyak memasak, orang yang banyak memasak berarti banyak tamunya, orang yang banyak tamunya berarti dermawan.
b. كناية عن موصوف
Kinayah maushuf yaitu kinayah yang mukanna ‘anhunya berupa maushuf. Pada kinayah ini di syaratkan sifatnya harus khusus untuk maushuf.
Contoh:
  تطورت وسائل الانتقال والسفر من سفينة الصحراء إلى ماخرة البحار ومن ذوات الصهيل إلى بنات الهواء
“Alat transportasi dan perjalanan kini telah berevolusi dari perahu padang pasir menjadi pembelah lautan dan dari kendaraan meringkik menjadi anak-anak udara”..

c. كناية عن نسبة
Kinayah nisbah yaitu kinayah yang mukanna ‘anhunya atau lafadz-lafadz yang dikinayahkan adalah maushuf.
 متقرب من صاحبي فإذا مشت      في عطفه الخيلاء لم أتقرب
“aku (selalu) mendekati sahabatku, namun jika kesombongan mengalir dalam emosinya maka aku tidak mendekatinya”
Emosi = orangnya.

2. Dilihat dari segi perantara (media) atau kelazimannya, kinayah terbagi menjadi empat,yaitu:[5]
a. Ta’ridh ( تعريض )
Yaitu perkataan untuk menunjukkan suatu makna yang tidak disebutkan (tidak terang maksudnya)
Contoh:
المسلم من سلم المسلمون من لسانه
”Seorang muslim yang sebenarnya adalah yang tidak mengganggu muslim yang lainnya dengan lisan dan tangannya”
Contoh tersebut mengisyaratkan tiadanya sifat islam dari orang yang menyakiti.
b. Talwih  (تلويح )
Yaitu kinayah yang diantara mukanna bih dan mukanna ‘anhu terdapat media atau perantara yang banyak.
Contoh:
وَمَا يَكُ فِيَّ مِنْ عَيْبٍ فَإِنَّى # جَبَانُ الكَلْبِ مَهْزُوْلُ الْفَصِيْلِ
“padaku tidak terdapat aib # Karena aku adalah pengecut anjingnya dan kurus anak sapinya.”

Pada syi’ir tersebut terdapat ungkapan جَبَانُ الكَلْبِ” dan “مَهْزُوْلُ الْفَصِيْلِ”. Kedua ungkapan ini pada dasarnya menggunakan gaya bahasa kinayah. Kedua ungkapan ini bermakna seseorang yang mulia.
c. Ramz  ( رمز )
Yaitu kinayah yang diantara mukanna bih dan mukanna ‘anhunya terdapat sedikit media atau perantara.
Contoh:
 فُلَانُ عَرِيْضُ القَفَا وَعَرِيْضُ الوِسَادَةْ
Si fulan lebar tengkuknya dan lebar bantalnya
sebagai kinayah untuk mengungkapkan orang idiot atau bodoh.
d. Imak atau isyaroh ( الإيماء أو الإشارة )
Yaitu kinayah yang diantara mukanna bih dan mukanna ‘anhunya tidak banyak terdapat media atau perantara,dan tidak samar.
Contoh:
فاصبح يقلب كفيه على ما انفق فيها وهي خاوية) الكهف : ٤٣)
“maka ia membolak-balikkan kedua telapak tangannya terhadap apa yang ia infakkan, sedangkan telapak tangannya itu kosong”.
Pada ayat di atas terdapat ungkapan يقلب كفيه” makna asal ungkapan tersebut adalah ‘membolak-balikkan kedua telapak tangannya’. Ungkapan tersebut merupakan ungkapan kinayah yang maksudnya menyesal.

C.     Tujuan kinayah
Adapun tujuan dari kinayah adalah:
1. Menjelaskan
Kinayah ini digunakan untuk menggambarkan satu peringatan dengan gambaran yang tampak dan kelihatan, seperti ungkapan dibawah ini:
قَرَعَ اَحْمَدٌ سِنَّهُ
Ahmad menghentakkan giginya (marah)
2. Meringkas kalimat
Ungkapan kinayah bisa digunakan untuk meringkas suatu kalimat atau ungkapan yang panjang.
Contoh:
فُلَانٌ مَهْزُوْلُ الْفَصِيْلِ
Si Fulan itu kurus anak sapinya
Contoh firman Allah  dalam surat Al Baqarah ayat 24
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوْاالنَّارَ الَّتِي وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّ تْ لِلْكَافٍرِيْنَ ( البقرة : ٢٤)
Artinya: ”Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya). Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”
Pada ayat فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا ungkapan diatas merupakan ringkasan dari
اي فإن لم تأتوا بسورة من مثله. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا
3. Mengganti dengan kata-kata yang sebanding karena dianggap jelek
Penggunaan kinayah dalam mengungkapkan suatu ide bisa juga bertujuan untuk mengganti suatu kata yang dianggap jelek untuk diucapkan.
Contoh:
هوثقيل السمع
Dia berat pendengarannya
4. Memelihara kesopanan (Menghindari kata-kata yang dianggap malu untuk diungkapkan)
Jika seseorang ingin mengungkapkan suatu gagasan dan dia menganggap bahwa kata-kata yang diucapkannya kotor atau kurang sopan untuk diucapkan, atau karena dia malu mengungkapkannya, maka bias menggunakan bahasa lain sebagai kinayah atasnya.
Contoh: اَوْلمَسْتُمُ النِّسَاءَ   yakni اَوْ جَامَعْتُمُ النِّسَاءَ  menurut sebagian tafsir atau اَلآنَ بَاشِرُوْهُنَّ  yakni  الآنَ جَامِعُهُنّ
5.      Menutupi nama orang
Seperti: اَهْلُ الدَّارِ  yang artinya penghuni rumah sebagai bentuk kinayah dari istrinya.
III.   PENUTUPAN
a. Kesimpulan
Kinayah secara bahasa yaitu menerangkan sesuatu dengan perkataan lain atau mengatakan dengan kiasan atau sindiran
Sedangkan secara istilah kinayah adalah lafadz yang disampaikan dan yang dimaksud adalah kelaziman maknanya, disamping boleh juga yang dimaksud pada arti yang sebenarnya.
Pembagian kinayah, Dilihat dari maknanya:كناية عن صفة , ,كناية عن موصوف, كناية عن نسبة. Dilihat dari segi perantara:Ta’ridh ( تعريض ), Talwih  (تلويح ), Ramz  ( رمز ), Imak atau isyaroh ( الإيماء أو الإشارة )
Tujuan kinayah:Menjelaskan  dan Meringkas kalimat, Mengganti dengan kata-kata yang sebanding karena dianggap jelek, Memelihara kesopanan (Menghindari kata-kata yang dianggap malu untuk diungkapkan)
b. Penutup
Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, banyak kekurangan yang terdapat didalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat pemakalah harapkan demi kebaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.




[1] Muhamad Zamroji, Mutiara Balaghah Nadzam al-Jauhar al-Maknun (Blitar : Pena santri, 2017), hal v

0 komentar:

Posting Komentar