Pendidikan Anak Usia Dini di Era Pandemi Corona
Anak usia dini adalah individu yang sedang dalam tahap perkembangan mendasar guna mempersiapkan bekal untuk kehidupan di masa depan. Pada masa ini mereka akan mengalami perkembangan dan pertumbuhan mental serta fisik yang cukup banyak. Anak usia dini juga memiliki respon mengolah informasi yang masuk dengan cepat. Pendidikan pada anak usia dini sangatlah penting, salah satunya adalah dalam pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah bekal dasar agar anak mampu menjalani masa depan dengan baik. Bukan hanya mempelajari pengetahuan umum saja, pendidikan karakter akan fokus pada praktik kesopansantunan. Selain itu anak-anak juga akan diajarkan latihan kedisiplinan, interaksi sosial, mengenal budaya hidup sehat serta ilmu keagamaan.[1]
Pendidikan pada anak usia dini tentu saja dimulai dari keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama. Dalam hal ini peran anggota keluarga sangat dibutuhkan terlebih dalam hal tumbuh kembang pola pikir serta mental anak. Berawal dari lingkungan keluarga anak akan mengenal diri mereka sendiri dan lingkungan sekitarnya. Melalui pengenalan individu inilah, anak akan menjadi pribadi yang kuat. Kemudian ditambah dengan adanya pengenalan lingkungan sekitar akan menjadi lahan mereka dalam mempraktikkan interaksi sosial. Pada masa inilah akan tumbuh dan berkembang karakter anak itu sendiri.
Di Indonesia terdapat lembaga pendidikan anak usia dini yang kita kenal dengan singkatan PAUD. Lembaga ini bisa diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau nonpemerintah. Lembaga PAUD memberikan layanan pendidikan, pengasuhan dan pengembangan bagi anak yang baru lahir sampai usia 6 tahun atau usia 6 sampai 8 tahun. Keberadaan lembaga ini diatur oleh undang-undang RI nomor 20 tahun 2003. Dalam pasal 28 dijelaskan bahwa lembaga pendidikan anak usia dini bisa diselenggarakan dalam bentuk formal maupun nonformal. Dalam bentuk formal kita kenal dalam bentuk Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudhotul Athfal (RA). Sedangkan dalam bentuk nonformal biasa kita kenal dalam bentuk Kelompok Bermain (KB) dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA).[2]
Di masa pandemi ini hampir seluruh lembaga pendidikan di Indonesia melakukan pembelajaran dari rumah. Setiap lembaga pendidikan formal atau nonformal sedikit demi sedikit mengganti sistem belajarnya dari tatap muka menjadi sistem daring. Mayoritas guru menggunakan media internet guna melangsungkan pembelajaran daring. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para guru. Mereka yang terbiasa dengan pembelajaran melalui kontak langsung mau tidak mau harus menggantinya dengan sistem online.
Bagi setiap individu pembelajaran dengan sistem online memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Belajar dengan sistem online tentu terasa lebih mudah sebab dilakukan dari rumah. Bagi orang tua yang memiliki anak usia dini tentu tidak perlu bersiap mengantar anaknya sekolah setiap pagi. Sistem pembelajaran seperti ini juga terlihat lebih santai sebab waktu belajar lebih fleksibel dan tidak dibatasi dengan penggunaan seragam. Namun pembelajaran dengan sistem online juga tidak lepas dari sisi negatif. Orang tua kerap mengeluh sebab anak sulit untuk fokus pada pelajaran dan memilih sibuk dengan dunianya sendiri. Pembelajaran online juga membuat para orang tua harus ekstra dalam mengawasi kegiatan anaknya.
Menindaklanjuti sisi negatif dari pembelajaran online, setiap guru memiliki solusi tersendiri untuk mengatasi hal tersebut. Selain melalui sistem online, guru juga menganjurkan kepada siswa untuk belajar lewat media televisi. Program yang dijalankan guru bekerja sama dengan Kemendikbud untuk menyajikan tayangan televisi bersifat edukasi di saluran TVRI. Anak sesuai jenjang sekolahnya bisa menyaksikan program pembelajaran di televisi sesuai jadwal yang ditentukan pihak televisi. Contohnya pada pukul 7.30 sampai pukul 8.00 adalah waktu belajar anak jenjang PAUD. Program televisi ini juga dibuat semenarik mungkin guna menarik minat anak-anak dalam belajar.[3]
Selain itu dibandingkan dengan sistem daring, beberapa guru lebih memilih sistem pembelajaran luring. Pembelajaran luring dilakukan oleh guru dengan mengunjungi rumah siswa secara langsung. Guru memberikan pelajaran seperti biasa kemudian di akhir pembelajaran guru memberikan tugas pada siswa. Tugas tersebut bisa dikumpulkan di sesi pembelajaran berikutnya. Selain itu guru jenjang PAUD juga menggunakan media yang bervariatif seperti buku bergambar dan membawa alat peraga. Hal ini guna meningkatkan semangat belajar siswa meski hanya dari rumah. Pembelajaran dengan sistem luring juga dilakukan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Di masa pandemi ini anak-anak jauh memiliki lebih banyak waktu di rumah. Setiap kegiatan yang biasa mereka lakukan di luar rumah seperti belajar dan bermain kini mulai bersifat terbatas. Terlebih anjuran pemerintah untuk menjaga jarak membuat anak semakin jauh dari dari dunia luar. Oleh karena itu, di masa pandemi ini peran anggota keluarga sangat dibutuhkan terutama pada anak usia dini. Pada masa ini anak tengah mengalami golden age atau masa keemasan. Penanganan anak yang tepat akan berpengaruh besar untuk masa depannya.
Di masa pandemi ini adalah waktu yang tepat bagi para orang tua untuk fokus pada tumbuh kembang anak. Anak yang terbiasa berinteraksi dengan dunia luar kini terpaksa harus membatasi ruang geraknya. Pada masa ini orang tua bisa dengan rutin mengajak anak belajar bersama layaknya masa sekolah normal. Orang tua juga harus merangkap peran sebagai teman karib si anak guna menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Pada masa usia dini pula minat dan bakat anak mulai terlihat. Jadi alangkah baiknya bagi para orang tua untuk mulai mengarahkan masa depan anak sejak menginjak usia dini.
[1] Cipta Pramana, “Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Masa Pandemi Covid-19” (Semarang: Universitas Ngudi Waluyo, 2020), hlm. 117
[2] Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: PT. Indeks, 2013), hlm.15-16
[3] Eko Suhendro, “Strategi Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini di Masa Pandemi Covid-19” (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2020), hlm. 138

0 komentar:
Posting Komentar